Ngomongin soal emansipasi, pasti pikiran kita langsung meluncur ke nama Kartini. Tapi, jangan salah kaprah dulu. Di tanah Pasundan, ada sosok yang gerakannya nggak kalah revolusioner dan bener-bener “sat-set” dalam mewujudkan perubahan nyata. Beliau adalah Dewi Sartika, perempuan tangguh yang nggak cuma punya mimpi, tapi langsung eksekusi dengan bikin sekolah.

Lahir dari keluarga bangsawan di Cicalengka pada 1884, Dewi Sartika punya privilese buat sekolah. Tapi, bukannya asyik sendiri sama ilmu yang didapat, beliau justru gelisah lihat teman-teman sebayanya yang cuma mentok di urusan dapur dan kasur. Dari sinilah, benih-benih pemberontakan positif itu muncul.

Bukan Sekadar Literasi, Tapi Kemandirian

Dewi Sartika paham betul kalau perempuan itu harus punya skill. Maka, di tahun 1904, berdirilah Sakola Istri di pendopo Kabupaten Bandung. Bayangin, di zaman itu, bikin sekolah buat perempuan adalah langkah yang sangat berani dan berisiko dicibir lingkungan sekitar.

Di sekolah ini, para siswi nggak cuma diajarin baca tulis atau berhitung. Mereka dibekali keterampilan praktis kayak menjahit, menyulam, sampai cara masak yang proper. Tujuannya simpel tapi dalem: supaya perempuan punya harga diri dan nggak gampang disepelekan.

Perjuangan yang Nggak Kenal Lelah

Awalnya, muridnya cuma sekitar 20 orang. Tapi karena sistem pengajarannya yang oke dan relevan, sekolah ini berkembang pesat. Tahun 1910, namanya berubah jadi Sakola Kautamaan Istri. Bahkan, cabang-cabangnya mulai bermunculan di luar Bandung, tersebar ke seluruh wilayah Jawa Barat sampai ke luar Jawa.

Keberhasilan Dewi Sartika ini membuktikan kalau pendidikan itu hak segala bangsa, tanpa mandang gender. Beliau ngebuktiin kalau perempuan yang berpendidikan bakal melahirkan generasi yang jauh lebih berkualitas.

Banyak sejarawan dan pengamat sosial yang ngasih jempol buat dedikasi beliau. Mengutip dari laman Kemdikbud, Dewi Sartika adalah sosok yang sangat konsisten. Beliau nggak cuma kasih wacana, tapi langsung turun tangan jadi pengajar sekaligus pengelola.

Seorang pemerhati sejarah, Asep Kambali, dalam beberapa diskusinya sering nyebut kalau metode Dewi Sartika itu sangat adaptif. Beliau tau gimana caranya masuk ke celah budaya masyarakat Sunda yang waktu itu masih sangat kolot, sehingga sekolahnya bisa diterima dengan tangan terbuka tanpa memicu konflik horizontal yang besar.

“Dewi Sartika adalah representasi dari gerakan akar rumput yang sesungguhnya. Beliau memulai dari hal kecil di teras rumah sampai akhirnya diakui secara nasional,” tulis salah satu kolom komentar di platform edukasi sejarah.

Mengapa Namanya Harus Terus Menggema?

Kadang kita lupa kalau kenyamanan yang dirasakan kaum hawa buat kuliah tinggi-tinggi atau kerja di kantoran sekarang, itu ada harganya. Dan Dewi Sartika adalah salah satu orang yang udah “bayar” harga itu lewat perjuangannya yang penuh peluh.

Gaya kepemimpinannya yang inklusif dan visinya yang jauh ke depan bikin sosoknya jadi role model yang nggak bakal lekang oleh waktu. Beliau ngajarin kita kalau pengabdian itu nggak butuh panggung yang megah, cukup dimulai dari keresahan yang ada di depan mata.

Warisan yang Tetap Hidup

Sampai hari ini, semangat Dewi Sartika masih terasa. Nama beliau diabadikan jadi nama jalan di berbagai kota besar di Indonesia, tapi lebih dari itu, semangat “Kautamaan Istri” tetap mengalir di setiap institusi pendidikan perempuan. Beliau bukan cuma pahlawan nasional dalam bentuk foto di buku sejarah, tapi nyawa dari setiap gerakan pemberdayaan perempuan.

Keberaniannya buat dobrak aturan adat yang kaku tanpa harus kehilangan identitas sebagai orang Sunda adalah strategi yang jenius. Beliau tetep tampil anggun dengan kebaya, tapi otaknya seencer profesor. Ini adalah definisi keren yang sebenernya.

Menelusuri jejak Dewi Sartika bikin kita sadar kalau perubahan besar itu butuh ketekunan. Nggak ada yang instan, semua butuh proses dari satu langkah kecil di sebuah pendopo kabupaten. Kita patut bangga punya sosok seperti beliau yang sudah membukakan pintu literasi bagi jutaan perempuan Indonesia.

Semangat Dewi Sartika harus tetap kita jaga, bukan cuma lewat seremoni tahunan, tapi dengan terus belajar dan berkarya setinggi mungkin. Karena seperti kata beliau, perempuan adalah pendidik pertama bagi generasi mendatang. Kalau perempuannya cerdas, maka bangsanya juga bakal ikutan naik kelas. Jangan biarkan perjuangan beliau cuma jadi catatan usang di rak perpustakaan, mari kita hidupkan kembali dalam aksi nyata setiap hari.

Sumber:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments

No comments to show.