Bandung, kota ini selalu punya cara buat bikin kita jatuh cinta. Salah satu ikon yang paling mencolok kalau kita main ke arah timur Bandung ada bangunan megah nan kokoh bernama Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Tapi, kalian tahu nggak sih kalau nama itu bukan cuma sekadar deretan kata keren biar kelihatan sangar di mata lawan?
Ada memori kolektif yang sangat dalam tertanam di balik kemegahan rumput hijaunya. Nama stadion ini adalah penghormatan buat peristiwa heroik yang terjadi puluhan tahun silam, saat warga Bandung lebih milih ngebakar rumah mereka sendiri daripada harus nyerah ke tangan penjajah.
Mengenang Peristiwa yang Menggetarkan Dunia
Mundur ke tanggal 24 Maret 1946, Bandung bener-bener jadi lautan api yang sesungguhnya. Sekitar 200 ribu orang Bandung kompak ngebakar tempat tinggal mereka dalam waktu cuma tujuh jam. Bayangin, semua harta benda ditinggalin demi satu tujuan: biar tentara Sekutu dan NICA nggak bisa manfaatin bangunan-bangunan di Bandung sebagai markas militer.
Strategi “bumi hangus” ini terpaksa diambil karena kekuatan senjata kita waktu itu nggak sebanding sama musuh. Mohammad Toha, pahlawan muda yang namanya juga diabadikan jadi nama jalan, bahkan rela gugur demi meledakkan gudang amunisi musuh di Dayeuhkolot. Semangat perjuangan inilah yang pengen terus dijaga lewat penamaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Kenapa Harus GBLA?
Pemilihan nama ini nggak sembarangan diambil lewat obrolan warung kopi. Ada proses panjang lewat sayembara dan diskusi para tokoh masyarakat. Nama GBLA dipilih karena dianggap paling mampu mewakili identitas masyarakat Bandung yang berani, pantang menyerah, dan punya solidaritas tinggi.
Stadion yang jadi markas besar Persib Bandung ini punya kapasitas sekitar 38.000 penonton. Kalau lagi ada pertandingan besar, suasana di dalam stadion bener-bener “panas” mirip kayak semangat Lautan Api dulu, tapi bedanya sekarang bentuknya adalah dukungan kreatif dari para Bobotoh.
Banyak pengamat bilang kalau stadion ini punya “nyawa” tersendiri. Mengutip dari laman sejarah lokal, seorang penggiat budaya Bandung menyebutkan:
“GBLA itu bukan cuma tempat main bola. Setiap kali kaki melangkah masuk ke sana, kita diingatkan kalau orang Bandung itu punya harga diri yang tinggi. Nama itu adalah pengingat buat anak muda kalau kebebasan yang kita rasakan sekarang dibayar pakai api dan air mata.”
Bahkan di media sosial, banyak fans sepak bola yang ngerasa kalau atmosfir GBLA itu beda. Salah satu netizen di Twitter (X) sempat nulis kalau main di GBLA itu rasanya kayak masuk ke kawah candradimuka, energinya meluap-luap!
Stadion GBLA adalah bukti nyata kalau sejarah nggak boleh dilupain gitu aja. Lewat sepak bola, semangat Bandung Lautan Api tetap menyala di hati setiap orang yang datang ke sana. Jadi, kalau nanti kalian berkesempatan nonton pertandingan di sana, inget ya kalau kalian lagi berdiri di atas tanah yang namanya diambil dari salah satu perjuangan paling gila dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Yuk, jaga bareng-bareng fasilitas umum ini. Jangan sampai semangat apinya malah dipake buat hal negatif kayak ngerusak kursi atau buang sampah sembarangan. Kita harus bangga punya stadion dengan nilai sejarah yang begitu kuat!
Sumber:
- Sejarah Nasional Indonesia: https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/24/sejarah-bandung-lautan-api
- Arsip Daerah Jawa Barat: https://dispusipda.jabarprov.go.id/
- Profil Stadion GBLA: https://bandung.go.id/



No responses yet